Sesal yang Selalu Berjejal.
Ada saat dimana aku merasa begitu
menyesal dan marah kepada diriku sendiri. Terlebih ketika sahabat-sahabatku
sudah memberikan segala yang terbaik untukku, namun aku merasa, tidak pernah
melakukan apapun untuk mereka.
Begitu sesak. Dan pertanyaan “untuk
apa aku terlahir kedunia?” semakin keras berbicara dalam otakku. Aku tidak
terima atas segala kenyataan bahwa memang selalu ada batasan dalam hidup. Dan juga,
aku tidak dapat melakukan apa-apa untuk melakukan perubahan. Karena alasan ‘menuruti
yang seharusnya dituruti’.
Aku hanya tidak akan pernah dapat
memaafkan diriku sendiri bila terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan kepada
mereka. Hal yang sangat aku yakini adalah setiap hal dalam kehidupan ini
memiliki kesinambungan yang tidak pernah berujung. Selalu saling membutuhkan
satu sama lain. Silang-menyilang. Tidak pernah berakhir. Aku juga menyakini
bahwa, selalu ada alasan bagi Tuhan mempertemukan kita dengan semua manusia
yang kita temui di dunia. Entah itu di kehidupan nyata, atau pun di dunia maya.
Aku masih mencari-cari, mencoba memahami.. apa tujuan Tuhan mempertemukan aku
dengan mereka..
Dan mengapa? Mengapa aku tidak
bisa memaafkan diriku sendiri bila mereka terluka?
Pertama, karena aku adalah bagian
dari kehidupan mereka. Harusnya aku tidak boleh membiarkan siapapun melukai
siapapun. Kita sebagai manusia harusnya saling menjaga bukan?. Kedua, karena aku
menyayangi mereka. Setiap mereka adalah satu nafas dari banyak nafasku. Aku yakin,
aku tidak akan dapat hidup tenang tanpa mereka. Tawa mereka adalah tawaku. Dan setiap
tangis mereka, adalah tangisku. Ketiga, pernah dengar bahwa sahabat kita adalah
malaikat yang Tuhan turunkan untuk kita tidak? Kalau tidak, maka kamu harus
mulai mempercayai itu. Malaikat, ya, malaikat. Mereka tahu mana yang baik dan
mana yang tidak untuk kita. Ketika hatiku ragu dalam sesuatu, dan ingin berkata
‘tidak’ untuk itu, maka mereka berkata ‘tidak’ untuk meyakinkanku bahwa aku
tidak boleh merasa ragu untuk melangkah kedepan. Ketika aku berkata ‘ya’, dan
mereka melihat hal buruk dari yang kuinginkan, mereka memberikan pilihan dan
pengertian. Ketika aku merasa tidak sanggup, mereka berbaris berbagi tugas,
mendorongku dari belakang sebagian dan menuntunku maju perlahan sebagian. Segalanya
yang mereka lakukan padaku, bagaikan perlakuan Malaikat Allah kepada para Nabi
dan Rosul-Nya. Begitu indah, sangat menjaga.
Alasan keempat, kelima, keenam,
dan seterusnya.. aku masih mencari cara untuk mengungkapkannya lewat kata. Satu
yang pasti, aku ingin melakukan yang lebih baik dari apa yang sudah aku lakukan
untuk mereka. It’s just seems like, I
always do nothing for them. Semoga dapat lekas kutemukan cara. Semoga..

Komentar
Posting Komentar