Kado Ulang Tahun yang Datang Tidak Tepat Waktu.

akhirnya, aku sudah menemukan sebuah benda yang akan kuberikan padanya. aku tahu betul ini sudah jauh dari tanggal 6 Januari tapi apa salahnya memberikan kado secara terlambat? yang penting niat bukan?

12 Maret, pagi hari, jantungku berdegup tidak karuan. aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku tapi aku tahu apa alasannya. lelaki itu, yang segala tentangnya masih terpampang jelas dalam benakku, hanya dia yang dapat membuatku seperti ini. meski hatiku terasa hampa, namun aku tahu hanya ada satu pengisinya, dia.

bungkus kado bermotif nada-nada musik itu menjadi pilihan untuk membungkus benda yang sudah aku siapkan. sebuah jam tangan casual berwarna hitam yang (kurasa, kupikir, kutimbang-timbang) akan cocok berada di pergelangan tangannya. harganya tidak mahal, pun tidak murah. meskipun, aku harus berusaha keras untuk dapat membeli benda itu, aku tidak mengapa. rasanya tidak ada beban. begitu saja. melihat jam tangan itu membuatku membayangkan bahwa dia sedang memakai jam itu. ah senang sekali rasanya!

pada pukul 11 siang, aku mengirim pesan singkat kepadanya. bertanya dimana posisinya dan apa yang dia kerjakan dan lain-lain. dan aku bersyukur, bersyukur sekali.. karena dia tidak sedang berada dirumah. dia sedang berada di kampus dan sepertinya sedang sangat super sibuk. jadi, inilah yang sebenarnya aku inginkan. sehingga aku tidak perlu repot-repot menahan malu ketika misalnya, nanti, berhadapan dengannya. alhamdulillah.

ketika berada di perjalanan, aku sedikit menatap masa lalu. mengingat bahwa pernah aku melewati jalanan ini bersama dia. mengingat segala tawa dan canda yang dia buat hanya untukku ketika dia bersamaku. dan segala tentangnya, semuanya.

berada di depan rumahnya membuatku mengingat saat pertama aku berada dirumah itu. saat pertama aku memasuki rumahnya, bertemu mamanya, merasakan masakan mamanya yang mirip dengan rasa masakan mamakku, bercanda bersama dengan mamanya dan teman-teman, sholat di dalam kamarnya, mencium tangan mamanya dan banyak lagi hal yang sulit untuk aku utarakan. dan aku sungguh tidak menyangka bahwa kemarin, aku dapat berada disana lagi, meski hanya untuk beberapa saat saja.

aku mulai mengucap salam. dan benar-benar berharap bahwa aji belum pulang. sekali, dua kali, tiga kali, empat, dan lima, masih tidak ada jawaban. aji mengatakan bahwa ada orang dirumah. dan tanda-tandanya pun memang begitu. pagarnya tidak terkunci, ada celah kecil diantara masing-masing pengaitnya. itu pertanda bahwa mungkin, baru saja pagar ini digunakan untuk seseorang masuk atau keluar rumah. mbak santi yang mengantarkan aku, akhirnya ikut membantu. dia membuka pintu pagar, masuk ke dalam halaman rumah dan mengetuk pintunya. aku sungkan, takut, gugup, dan ah campur aduk. jadi aku tetap berada diluar pagar dan menunggu. konyol, betapa konyolnya aku!

aku mulai melamun sebentar, berada dalam duniaku sendiri. dan tanpa aku sadar, sudah ada seseorang yang berdiri disana, di depan pintu rumah, sedang berhadapan dengan mbak santi. aku melihat mbak santi berbicara kecil dengan orang itu, namun aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. separuh nyawaku masih berada dalam dunia khayalku dan separuhnya berada di dunia nyata. mbak santi mengayuhkan tangannya kepadaku pertanda bahwa dia memintaku menghampirinya. aku melihat orang itu, terkejut, takjub. aku seperti berada dalam dunia baru yang menyenangkan. aku melihat aji di dalam matanya, aku mengingat aji dari gerak tubuhnya. aku tahu, orang ini tidak mungkin ayah aji. ini pasti adiknya, dimas!

sambil menghampiri mbak santi dan dimas, aku merogoh tasku. berharap hadiah ini tidak terjatuh karena aku mulai merasa gemetaran tak karuan pun telapak tanganku mulai basah keringatan. yup! aku dapat. aku berbicara sekata, dua kata. aku benar-benar dapat melihat aji di dalam tatapan mata orang ini. aku mengerti, aku benar-benar merindukan seseorang yang sedang tidak berada di rumah itu, aku merindukan aji.

"eh iya.. ini adiknya aji ya?" aku bertanya kepadanya.
"iya.. hehe ada apa ya mbak?" ada perasaan bingung ketika dia menatapku.
"eh ini, mau nitip ini aja buat aji.."
"oh iya... " dia melihat bingkisan itu kemudian menerimanya. 
"yaudah kalo gitu. makasih banyak ya.. "
"oh iya mbak, makasih.."

ketika dimas masuk, pintu rumahnya ditutup kembali. kemudian, tiba-tiba terbuka. ada seorang wanita paruh baya yang berada dibagian dalam rumahnya. aku tahu, itu mama aji. aku tersenyum padanya lewat celah pintu yang terbuka sehingga aku dapat melihat wajah wanita itu. kemudian beliau keluar rumah dan menghampiri aku juga mbak santi. senyumnya, masyaAllah. aku mengakui, mama aji memang cantik. cantik sekali. dengan perawakan yang tidak bisa dibilang tinggi untuk ukuran wanita dan kulitnya yang kuning langsat membuat beliau terlihat sangat anggun. dan atas segala hal yang telah aji ceritakan padaku tentang beliau, hal itu lah yang membuatku semakin kagum dengan kepribadiannya.

"nyari aji ya??" sambil tersenyum beliau menghadap ke arahku
"eh iya tante.. tapi tadi sudah bilang aji untuk dititipkan ke tante aja.." aku menjawab
"oh.. yasudah kalo gitu. temen kampus tah?" beliau mengulurkan tangan, dan aku menyalaminya. 
"bukan tante, temen smk.." jawab mbak santi
"oh iya.." kata mama aji singkat

beberapa detik aku dapat memandang wajah mbak santi yang nyengir menatapku dan aku hanya bisa diam berada dalam situasi ini. aku tidak berkutik berhadapan langsung dengan wanita yang melahirkan sesosok lelaki yang kini aku menaruh harapan padanya. 

"yasudah tante kalo gitu kami pamit dulu.."
"oh iya.. maaf ya.. tadi tante setrika soalnya.."
"iya nggak apa-apa tante.."
"mari tante, assalammualaikum.."
"waalaikumsalam.."

kunjungan super singkat itu nyatanya dapat ditutup secara sempurna karena kemunculan mama aji. ditambah sapaan-sapaan dan senyum mamanya yang membuatku merasa sangat merindukan mamak dirumah. yah.. aku hanya tidak menyangka akan bertemu lagi dengan mamanya. aku bahagia sekali, sangat bahagia. benar kata adib, semuanya akan terasa lebih berkesan jika dilakukan sendirian. alhamdulillah. aku bersyukur sekali.

sesampai aku dirumah, aku memberi kabar kepada aji lewat pesan singkat. aku mengatakan padanya bahwa aku sudah menitipkan bingkisan itu kepada mamahnya dan aku juga berkata semoga dia suka. tidak banyak basa-basi, namun beberapa kali kami saling bertukar pesan. 

aku kembali tidak bisa tidur. mataku ingin sekali terpejam tapi ruhku berada diantara 2 dunia, lagi. aku hanya ingin cepat-cepat mengetahui reaksi aji ketika sudah membuka hadiah ulang tahunnya dariku. 

pukul 00.11 aji mengirimiku pesan. dia mengucapkan terima kasih atas kado itu dan dia juga berkata bahwa dia suka. aaaaaaaahh bagian-bagian jiwaku berteriak senang karena hal itu. aku gembira tak karuan. sampai-sampai aku sering senyum-senyum sendiri ketika teringat sms aji sampai saat aku menuliskan ini di blog. 

alhamdulillah, aku senang kamu senang ji. kangen deh sama kamu. dengan semua canda kamu, gerak tubuh kamu, semuanya! semoga ada saat aku dapat melihatmu lagi ya, semoga :))



merci aji♥

Komentar

  1. Alhamdulillah, sahabatku lagi seneng rek, gak galau :p
    walaopun dalam kegalauan..
    hmm mungkin ini yang disebut "Kebahagiaan dalam kegalauan"
    hahahahaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju banget deh mo sama "kebahagiaan dalam kegalauan" :D
      hahahaha xD

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer