Boneka gajah kecilku..

Aji (boneka gajah kecil pemberian seseorang yg juga bernama sama dengannya), selalu menemaniku setiap saat, setiap waktu… Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun.. 

Boneka gajah kecil ini adalah satu-satunya sumber kekuatan yg mampu menopang rapuhnya kekuatan hatiku. Dia mampu membuatku percaya bahwa kapanpun, dimanapun, bagaimanapun keadaannya, ada seseorang yg kehadirannya selalu kutunggu dalam hidupku, yg selalu ada untukku dimanapun ia berada, bagaimanapun keadaannya, ia selalu ada untukku. Meskipun, kehadirannya tak terlihat oleh mata ini, boneka ini selalu meyakinkan, bahwa Aji, selalu ada untukku, dihatiku, di sudut-sudut memoriku, dan di alam nyataku. 

Ketika aku tersenyum… aku berharap kamu dapat menyaksikan senyumku ini. Senyum yang datang dengan tulus dari hati. Senyuman yang dengan susah payah kucoba untuk hadir di setiap hari tanpa ada kamu di dalamnya. Senyuman yang dengan mudahnya aku dapatkan ketika kamu temani aku, ketika kamu ada dimana-mana untukku.. 

Selalu aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan rasa ikhlas pada hatiku, agar aku bisa menerima apa yang sudah Ia takdirkan, apa yang sudah Ia gariskan, apa yang sudah Ia tetapkan. Untuk segala kekuranganku, untuk segala hal yang belum aku miliki hingga sekarang, aku dapat dengan mudah menerimanya.. namun mengapa kehilanganmu, menjadi hal yang sangat sulit untuk aku terima? Apakah sudah terlalu sering kamu menyapaku dengan cinta dan kata-kata bagaikan janji untuk selalu ada untukku sehingga aku percaya bahwa kamu akan tetap untukku sampai kapanpun? Sehingga aku terlena kemudian terlupa bahwa aku masih harus bisa berdiri tanpa kamu..

Aku selalu berharap kamu bisa melihat senyumku ini supaya kamu bisa pergi tanpa beban, supaya kamu bisa tertawa dengan teman-teman barumu, supaya kamu, bahagia.. lihat kan? Aku sudah menuruti semua maumu kan? Apa yang kurang dariku? Bicara! Biar aku tau semua maumu! Kemudian akan ku lakukan satu demi satu yang aku mampu lakukan agar kau bahagia, bahagia, bahagia…….meski bukan bersamaku… 

Kamu pernah bilang bahwa kamu ingin melanjutkan mengejar impianmu tanpa beban sehingga kamu ingin aku pergi dari hidupmu. Jadi aku adalah beban, beban hidup, beban hati, beban pikiran, beban apapun itu tak akan mampu aku sebut satu persatu karena akan terlalu rumit akhirnya. Oleh sebab itu kucoba untuk ikhlaskan kamu lari dan terbang jauh bersama apa yang telah kau ambil dariku. Meskipun aku tau, apa yang telah kamu renggut tidak akan mungkin pernah lagi kembali. Meskipun aku paham, luka yang kamu tinggalkan bersama kepergianmu hanya dapat aku sembuhkan sendiri…

Jangan kau tanyakan mengapa aku begitu rapuh setelah kepergianmu. Apakah kamu tidak mengerti? Apakah kamu tidak paham? Apakah kamu pikir kamu tidak mencuri sesuatu yang ku anggap penting? Apakah kamu….tidak peka?

Hai pangeran hatiku, mampukah kamu menjawab segala pertanyaan yang bahkan aku sendiri tak mampu untuk ungkapkan kepadamu?
Mampukah kita bersatu meskipun sulit rasanya untuk memulai kembali?
Mencintaimu yang kini tak perduli denganku, apakah itu suatu kebodohan? 

Hai pangeran hatiku, bagaimanapun aku mencintaimu, sebesar apapun rasa sayang ini untukmu, aku tetap tak bisa memaksa. Memaksamu untuk kembali bersamaku? Mustahil! Memaksa Tuhan untuk membuatmu jatuh cinta padaku lagi? Apa yang Tuhan tak bisa lakukan? Namun takdir tetaplah takdir. Jika Tuhan sudah menetapkan akan ada seseorang baru yang mampu melengkapiku lebih darimu saat ini, aku harus mampu menerimanya dengan senang hati. aku tidak bisa memaksa Tuhan untuk menjodohkan aku denganmu ketika aku sudah digariskan bersama orang lain, dan begitu juga kamu, kamu tidak bisa memaksa Tuhan untuk bisa kembali bersamaku ketika Tuhan telah menetapkan aku bersama yang lain.

Aku masih disini, masih terus berusaha perduli padamu namun kamu tak bisa terima itu. Jadi aku disini, diam dengan beban yang membunuh jiwaku secara perlahan.. dengan diam-diam mecari tahu bagaimana kabarmu, dengan berpura-pura tak lagi perduli, dengan bermuka dua, demi cinta dan sayang yang tak mungkin terus ku umbar. Bukankah lebih baik aku yang berkorban demi bahagiamu daripada aku terus perduli padamu kemudian kamu tersiksa karenanya?

Aku memohon maafmu, dari hatiku yang terdalam.. maafkan aku yang begini bodohnya hingga selalu membuatmu terluka. Maafkan aku dengan segala kurangku yang pada akhirnya tak bisa kamu terima. Maafkan aku atas segala sifatku yang sering membuatmu resah dan bimbang. Maafkan aku dengan segala rasa maafku yang tak mampu kamu mengerti. Maafkan aku atas segala tingkah lakuku yang membuatmu jengah lalu benci. Maafkan aku yang masih menyayangimu. Maafkan aku yang masih mencintaimu. Maafkan aku…

Terima kasih, dari hatiku yang terdalam.. Terima kasih karena telah pernah memberikan kepadaku boneka gajah kecil ini. Terima kasih karena telah memberinya nama Aji. Terima kasih karena telah mempercayaiku untuk menjaganya. Terima kasih untuk semuanya, terima kasih, terima kasih banyak.. terima kasih, karena mungkin kamu bisa tersadar bahwa hal sekecil apapun yang telah kamu berikan kepadaku, memiliki arti yang sangat mendalam bagiku.. 

Mungkin hanya boneka gajah kecil bernama Aji inilah yang mampu memelukku erat dalam tangisku tiap malam. Ya, hanya boneka kecil ini. Hanya dia yang tau bagaimana tangis kucoba tahan hingga bibir bergetar. Hanya dia yang tau bagaimana seluruh bagian pada diriku ini merindukanmu hingga pedih bukan lagi bernama pedih. Hanya dia yang mengerti bagaimana rasanya aku menggigit bibir sendiri untuk menahan sakit yang selalu datang tiba-tiba ketika aku mengingat kepergianmu. Hanya dia yang paham bagaimana aku mencoba bertahan melawan perih pedih menghujam sekujur tubuh demi kuatkan diri hadapi kenyataan ini. Hanya dia yang tau bagaimana tak ada hentinya tangisku meleleh ketika aku berkomunikasi 2 arah kepada Tuhan. Hanya dia, dan hanya Tuhan kita yang tau..

Boneka gajah kecilku, terima kasih karena telah hadir dalam hidupku :’)
Terima kasih (lagi) untuk kamu, karena telah memberikan hadiah kecil ini untukku :’)


masih untukmu, Aji..



Dengan cinta,

Anggi Kurniasari

Komentar

  1. Waw, kayaknya masih membekas banget yah Aji di hatimu. :D, keep nulis

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer