Tentang Isi Hatiku
~aku mengamati
& memperhatikan. Mulai dari sepasang sandal
kulit yang kini tampak bersih seperti habis dicuci , aroma shampoo yang tercium
dari rambutnya yang tergerai, wajahnya yang hitam manis kini terlihat bersih seperti
sering dibasuh air wudhu, kemeja warna hitam kotak-kotak yg ia pakai, hingga
celana jins hitam favoritnya yg biasa ia kenakan. Aku hafal sekali memori itu,
memori yang terus terekam ketika terputar ulang dalam otakku. Yang entah akan
terus berulang sampai kapan, kemudian terhenti dan.. entah apa yang akan
terjadi kemudian..
Kami duduk berdekatan. Sesekali ia
menatap kearah langit cerah sehabis maghrib yang berada tepat diatas kami. Ya,
kami berdua duduk beralas karpet dan tanpa atap. Sambil menunggu datangnya
pesanan nasi goreng jawa ditambah teh manis hangat yang ia pesan untuk kami
berdua, kami tak berbasa-basi. Sampai lama aku terdiam, ia mulai angkat bicara.
Ia bertanya ini itu yang membuatku bisa menatap wajahnya, langsung tertuju pada
sorot matanya, dan aku baru menyadarinya, bahwa ia ada dihadapanku. Tuhan,
lelaki yang selama ini sangat kurindukan kini ada dihadapanku..
Sudah lama ternyata aku tak bertemu orang ini, pikirku dalam hati. Semenjak terakhir
kalinya aku mengajaknya menemaniku ke perpustakaan daerah, semenjak terakhir
kalinya aku memeluknya erat & lama sekali, tepat terakhir kalinya aku
mencium tangannya, tepat terakhir kalinya aku duduk berhadapan dengannya, tepat
terakhir kalinya dia menggenggam tanganku ketika kita berjalan berdua, tepat
ketika aku sangat merindukannya, tepat disaat aku tak tau kapan terakhir
kalinya aku merindukannya.. yang aku ingat selama ini adalah aku selalu
mencintainya, selalu menyayanginya, dan selalu merindukannya..
Malam itu aku menyadari bahwa Ia
masih sama, tetap sama. Masih hangat seperti dulu, masih lucu, masih sering
menggodaku, masih sering memperhatikanku, masih sering menatapku dengan tatapan
yang membuatku gila. Namun ia berbeda, ia bukan lagi kekasihku. Ya, bukan
baginya. Dan bagiku, Ia akan tetap jadi kekasih hatiku, entah sampai kapan..
Kami duduk berdekatan. Aku bisa
melihat wajahnya, menatap sorot matanya yang selalu bisa membuatku hanyut
olehnya. Aku bisa mendengar suaranya saat berbicara meski bising terdengar
dibelakang kami. Lalu aku mulai memainkan video klip Maudy Ayunda yg berjudul
Perahu kertas itu dari HandPhonenya. Kemudian ia mendekat. Seperti memastikan
apakah aku dapat mendengar dengan jelas bagaimana lagu itu yang sebenarnya. Aku
dengar dia bernyanyi sambil berbisik. Aku ingat saat itu tangannya
bergerak-gerak seakan-akan ia memegang gitar dan memainkannya. Aku ingat apa
yang ia bisikkan, ya aku ingat. Aku ingat, bahwa dari sudut mataku aku dapat
melihatnya yang melihatku dari dekat, yang memperhatikan aku, mataku, entah
kenapa..
Kemudian
kami memutuskan untuk pindah ke tempat lain yang lebih nyaman. Ia mengajakku ke
pendopo alun-alun kota. Kami duduk disana, berdua, berdampingan, sama seperti
dulu, saat pertama kali kami akan belajar bersama dan berjanjian bertemu di
tempat ini. Aku masih ingat saat itu. Saat wajahnya melihat wajahku, saat
senyumnya menerpa senyumku seakan aku ini akan menjadi seseorang yang sangat berarti
baginya..
Lama kami
duduk berdampingan. Dan aku terdiam menatap langit jam 7 malam yang sepi dan
berhias hanya 2 bintang yang kini ada dihapanku. Para muda-mudi bergandengan
tangan berlalu lalang seakan mengejek kami yang sudah tak lagi menjalin cinta..
ia terlihat terduduk resah disampingku. Kemudian ia menyadari bahwa aku
menangis disana, dalam diamku yang kubenamkan dalam kerudung. Kemudian ia
berbisik “jangan nangis anggi..” oh Tuhan, mengapa harus ia berbicara demikian?
Aku menangis tersedu karenanya dan satu-satunya jiwa yang mampu meredakan
tangisku adalah.. dia. tangisku terhenti, kemudian kami diam. Tak lama, air
mataku menetes lagi, 1 butir, 2 butir,
3, 4 dan seterusnya sampai ia menepuk-nepuk punggungku, menenangkanku dalam
merdu suaranya, dalam hangat peluknya, dalam hangat genggam tangannya yang
menghapus airmataku dengan lembut..
Pukul 8.. ia
mengajakku pulang, namun aku enggan. Masih ada yang harus dibicarakan, aku
masih harus mendengar berbagai alasan yang membuat kami menyudahi hubungan kami
dan menggantinya dengan ikatan suci yang lain yang ia sebut persahabatan.. lalu
ia berkata, “kamu sih dari tadi diem aja, malah nangis..”
“aku pengen sendiri nggi, pengen bebas.. dan aku nggak pengen liat kamu
terus-terusan sedih karena aku..” bisiknya perlahan. Kemudian dia menatap wajahku dan berkata,
“pulang yuk, sudah jam 8 malam, kan kamu nggak boleh pulang malam-malam, aku
nggak mau kamu dimarahin karena aku..” seraya terus berkata ia terus menatapku.
Namun aku masih enggan, aku masih ingin duduk disitu, disampingnya, karena
mungkin hal ini akan jadi kegiatan yang sangat langka untukku. “yuk..”, ia
berkata lagi. Kemudian aku mengangguk perlahan, aku membenarkan posisi tasku
dan dia ikut membantu, kemudian aku berdiri dan ia terus mengamati, lalu tanpa
kukira sebelumnya, ia menggenggam tangan kananku, menggandengku, seakan ia
takut aku tak akan ikut dengannya. Dan aku, dalam diamku terus ingin memahami,
merasa, mengingat-ingat bagaimana rasanya digenggam dia, bagaimana ia berjalan
mendahului seakan terus menuntunku. Rasanya, aku ingin selalu berada dalam
situasi seperti ini, dimana tangan kami saling menyatu, seakan takkan terpisah
sampai kapanpun, seakan aku adalah sesuatu yang sangat berharga baginya hingga
saat menggenggam tanganku pun ia tak berani erat-erat karena takut menyakiti..
Melihat punggungnya,
ingin sekali aku untuk memeluk. Meredakan hawa dingin yang menusuk. Melepaskan
rindu yang selama ini juga jahat menghujam.. namun aku tak bisa, lelaki ini
bukan milikku. Dan aku tak mungkin menyakitinya dengan menyisakan bekas pelukan
yang entah dapat ia sembuhkan sendiri atau tidak.. aku tidak ingin menyakitinya
lagi, terlebih, menyaksikannya bersedih karena aku..
wahai Aji, sampai kapan aku terus seperti ini?
semoga engkau dapat menjawab pertanyaan yang bahkan tak pernah ku ungkapkan hanya dengan kembali kepadaku.. :')
Allah, boleh kah Kau ijinkan kami bersama? :')
semoga engkau dapat menjawab pertanyaan yang bahkan tak pernah ku ungkapkan hanya dengan kembali kepadaku.. :')
Allah, boleh kah Kau ijinkan kami bersama? :')
with love,
Anggi Kurniasari
Anggi Kurniasari


Dikemas dengan baik, salut deh, meskipun kontennya berupa curahan hati, tapi dikemas seperti cerita sastra yang indah :D, keep writing
BalasHapusTerima kasih banyak mas Gufron :D :)
Hapusserasa membaca sinopsis novel yang menceritakan perjalanan panjang yang dapat dirasa dalam sekejap :D, keep smile anggi jangan menyerah :)
BalasHapusterima kasih banyak Ryanda :)
Hapusiya, i'll keep smile and i'll never give up! :)
basuhan air wudhu yg slalu mnmani hitam manis wjahnyalah yg mgkin mmksanya untuk mlkukan ini semua.. ktka cnta tak dtang pda saatnya, ktka kata haram dan halal hanya dpsahkan oleh satu garis.. mgkin dy tlah mmhami itu semua.. tak ingin gresan tinta kta haram mmbkas dan trus mnglir dri sbuah fitrah akan ksh syang.. dan brhrap bsa mlwati masa, mlwati gris yg mmsahkan antra haram dan halal dg iktan cnta suci yg ssngguhnya bkan hnya sbuah tagline yg dungkpkan pra remaja untuk mntupi kslhan yg mna hati mereka pun tahu akan kslhannya.. yg mna kalian telah sling brusha untuk bisa jadi insan yg mulia.. mgkin itulah alasan dan dan apa yang ia harapkan.. sekian dan terimakasih.. wassalamualaikum..
BalasHapusterima kasih banyak Snow White ^^
Hapusya, kurasa apa yang kamu bilang ada benarnya.
dia anak baik, aamiin :)
waalaikumsalam warohmatullah..
siap-siap jadi calon penulis favorit aku nih nggi ;))
BalasHapusaaaah kak ari bisa ajaaa (/.\)
Hapusmakasih banyak ya kaaak :))